11.22.2011

Pendakian Puncak Mangu

Menikmati jajaran perbukitan di daerah Bedugul seperti memandangi selimut hijau yang sesekali dihiasi kabut-kabut tipis pada puncak-puncaknya. Meskipun beberapa celah telah dibangun villa dan hotel, selimut hijau itu masih memberikan kesan menarik. Udaranya yang sejuk semakin menarik banyak wisatawan untuk berkunjung ke tempat ini.

Salah satu dari puncak-puncak bukit ini menyimpan lokasi yang menarik. Sebuah pura. Pura Puncak Mangu, pura yang berada di ujung bukit yang mengelilingi sisi danau Buyan. Membayangkan sebuah pura dibangun di puncak bukit mengusik decak kagum dan rasa tanya yang besar. Bagaimana sebuah pura mampu dibangun di puncak yang lokasinya 2 km dari dasar bukit? Barangkali jawabannya kembali terselubung pada legenda rakyat dan kearifan lokal daerah ini.

Minggu ini bukanlah minggu pertama kami melakukan pendakian menuju pura puncak mangu. Terdapat dua jalur untuk mencapai pura ini. Jalur pertama merupakan jalur lama melalui kaki bukit. Jalur kedua adalah jalur baru, yang digunakan para pendoa mencapai pura Mangu. Jalur kedua belum pernah kami lewati, sedangkan jalur pertama sering digunakan sebagai jalur pendakian karena medannya yang penuh dengan tantangan. Dua kilometer yang akan dilalui bukan 2 kilometer jalur lurus, tetapi jalan dengan kemiringan berkisar 45 derajat. Tidak itu saja, perjalanan ke puncak Mangu kali ini ditemani rintik-rintik hujan, udara dingin yang mampu menghilangkan rasa di ujung-ujung jari, dan kabut yang dapat muncul kapan saja (hampir secepat perginya).

:Lokasi pertama=warung bakso. Isi bensin biologis

:Road to the Top

:Minta restu dulu kpd Sang Pencipta

Pendakian kali ini dimulai pukul 10.00 WITA. Kami pikir, udara yang lebih hanat, cuaca cerah, dan waktu keberangkatan yang lebih awal dibandingkan pendakian sebelumnya membuat kami mendapatkan waktu yang elbih banyak untuk bersantai dan foto-foto (seperti halnya seorang pelancong amatir, ehehe). Tampaknya, kami harus siap mendapatkan pelajaran yang tidak mengenakan dari hutan di bukit Mangu ini. Pelajaran yang akan menjadi kenangan seumur hidup.

Dua sifat hutan yang aku simpulkan setelah beberapa kali pendakian dan jelajah hutan adalah:

  1. Hutan dipenuhi keajaiban
  2. Hutan dipenuhi tipuan

Karakter hutan yang terus tumbuh dan mengikuti proses alam menyebabkan 2 sifat ini melekat erat. Jalur yang sekitar 4 bulan lalu kami lewati, kini  sudah mulai berubah. Jalan setapak yang dulunya kuat menyokong langkah kami di antara jurang, kini semakin rapuh. Hutan ini terus tumbuh sehingga kami hanya dapat mengharapkan sebagian saa dari kenangan pendakian sebelumnya. Kami harus sadar, jalan yang sekarang ini berbeda.


:Tali penyelamat, kami semakin bersemangat!


:Hutan yg penuh misteri. Kabut tiba2 datang,lalu udara dingin menyusul, diselimuti kanopi yg rindang.


Pepohonan di kiri-kanan kami bagaikan barisan penjaga yang kokoh. Entah sudah berapa tahun mereka hidup dalam hutan ini. Di atas kami, ranting-ranting pohon membentuk jalinan yang erat, menjadi suatu kanopi dedaunan. Salah satu alasan kami menyukai pendakian di bukit ini adalah adanya kanopi yang mampu menjaga kami dari sengatan panas maupun hujan.

Dan itu benar.
Hujan segera tiba saat kami berhenti di post perhentian ke IV. Terdapat V post di sana. Jarak terjauh adalah post V hingga puncak bukit. Serasa menghabiskan setengah waktu pendakian. Di sinilah mental kami diuji. Apakah hendak melanjutkan perjalanan atau memilih kembali ke bawah sambil membawa cerita yang hanya setengah?

Hujan semakin ganas dan mulai terbentuk ceruk-ceruk aliran air. Tanah yang sebelumnya bersahabat, kini menjadi sesuatu yang tidak terduga. Harus hati-hati! Belum cukup dengan hujan yang deras, petir juga datang silih berganti, sepertinya awan saling bertubukan dan mengalami retakan di mana-mana. Dekat sekali rasanya. Seakan, petir itu berada di sisi kami.

Hujan dan petir juga membawa rekannya : udara dingin. Udara dingin ini sungguh mengkhawatirkan. Jari-ari tanganku serasa sulit untuk ditekuk. Saat kucoba untuk memegang ranting, sensasi rasa di ujung jari itu semakin memudar. Ya ampun, jari-jari itu berwarna putih pucat.

Apakah kami akan menyerah?

Awalnya, harus kuakui, ada keraguan untuk melanjutkan perjalanan ini. Bahkan, aku berpikir, pendakian ini sudah di luar batas kemampuan diriku. Perlu juga dipikirkan kemungkinan dari masing-masing krew pendakian ini. Apakah aku akan menyerah sampai di sini?, pikirku. Sebuah perjalanan yang barang kali sebentar lagi - hanya sedikit lagi - akan tiba di puncaknya. Sebuah cerita yang tentunya akan berbeda jika kami menyerah sekarang.

Dengan modal kenekatan, diputuskan untuk tetap melanjutkan perjalanan. Sebentar lagi - kami percaya - puncak dari bukit ini dapat kami capai.

Tenaga yang tersisa dan semangat yang nekat membuat kami berupaya mengangkat kaki yang sudah mulai bergetar kedinginan dan kelelahan. Sekelebat, di celah pepohonan, dapat kulihat pohon cemara dengan daun bagaikan untaian rambut hijau. Cemara jenis ini merupakan tanaman khas di puncak bukit. Semakin menambah semangat kami - sebentar lagi akan sampai.

Dan, memang, kami tiba di jalan tersulit menuju puncak Mangu. Sebuah jalan setapak dengan tanah gembur dan di sisinya terdapat jurang. Seperti sebuah permainan, pada level raja akan ada tantangan yang lebih sulit dari sebelumnya. Beruntung, kami sudah mempersiapkan tali pramuka untuk menambah tempat pegangan saat melintasi jalan tersebut. Satu per satu dari kami melintas. Sangat hati-hati. Tanah pijakan terasa bergerak saat diinjak. Sedikit saja salah menaruh pijakan, sepertinya akan terjadi longsor dan jalan setapak langsung amblas -   pemikiran yang kusimpan rapat-rapat di hati supaya tidak terjadi.

Syukurlah! Kami berhasil tiba di Pura Puncak Mangu. Pakaian basah kuyup. Badan terus menggigil. Rasa syukur yang paling pertama terbersit di dalam pikiran : kami bisa sampai di puncak!
: Kami tiba-Syukurlaaah!



: Pemandangan yg Afdool. Sekaligus sesi pemotretan.

: Kera-kera penghuni Puncak Mangu

Sedikit melepas lelah di pelataran (jineng), membuka ransum makanan, dan mengeringkan pakaian - sejauh bisa. Angin dingin bertiup kencang di puncak bukit. Berrrr....! Jam menunjukkan pukul 15.00 wita. Lima jam perjalanan !! Lebih lama dibandingkan pendakian sebelumnya. Korelasi lurus antara rintangan yang lebih ekstrim dengan lamanya pendakian.

Huaaahhh... Kami menarik nafas lega.

Mencapai puncak bukit, dengan pura yang indah. DI sisi-sisi puncak terdapat pemandangan yang sangat menakjubkan. Rangkaian bukit-bukit hijau menjulang di sisi-sisi kami, Danau Buyan yang tampak biru pucat- merefleksikan langit yang masih menggantung beberapa mendung, dan awan-awan membentuk kumpulan putih dengan pola yang luar biasa. Pantulan cahaya matahari pada sisi putihnya membuat kumpulan awan serasa menyinarkan keajaiban.

Kera-kera penghuni puncak mulai datang mendekta - salah satu hewan yang hanya akan ditemukan di puncak Mangu. Mereka mencium bekal makanan kami. Barangkali, mereka hidup di puncak ini dengan cara mengambil sisa-sisa makanan dari para pengunjung pura.
: Pura Puncak Mangu

: Tim Merah Putih Pendakian Puncak Mangu

Haaaah, lega rasanya mencapai puncak. Aku mencoba menyerap seluruh pemandangan ini, sambil duduk dan mengabadikan pengalaman ini dalam kamera. Saat mataku memandangi mentari yang sesekali tampak di balik gulungan awan, aku mulai sadar : kita HARUS segera turun.
Kelegaan ini hanya bertahan sementara saja ....

Bersambung....

7 komentar:

  1. next on the "frog & his shell" : tim pendakian puncak mangu akan mencoba turun. apakah mereka semua selamat? berkurangkah jumlah anggota tim sesampainya d pintu masuk hutan? atau malah bertambah? derik ranting patah menemani setiap langkah dan bayang-bayang mengintai dari sudut hutan. berlomba dengan turunnya sang sinar, tim mulai bergerak untuk menuntaskan cerita yang telah dimulai. nantikan di " pendakian puncak mangu: episode II: the dark hour".

    BalasHapus
  2. Saran judulnya keren!! Ok, kita akan menuju sequel pendakian puncak mangu berikutnya....

    BalasHapus
  3. keren bangetz...
    kaya pengalaman kami mendaki pucak mangu
    medan semakin lama semaqkin terjal...
    tapu bersyukur kami sudah 2 kali mencapai puncak,

    BalasHapus
  4. Besok coba bukit yang baru. Bukit kembar, entah kembar dua atau tiga. Yang penting kita taklukan bukit2 Bali..

    BalasHapus
  5. i read your blog and get inspired - thanks.
    if you like take a look at www.mountains-of-bali.info
    chris

    BalasHapus
  6. Rencananya minggu ini mau ke puncak Mangu, Nice info broo,

    BalasHapus

HAPPY COMMENT...