12.07.2011

The Dark Team Wariors

Seorang teman pecinta film perang berkata : prinsip tentara Amerika saat berperang adalah No One Left Behind.
Entah itu benar atau tidak, prinsip kami saat turun dari puncak bukit adalah : naik ber-5, turun ber-5
Tidak berkurang (tidak berlebih).

Turun dari puncak Mangu semestinya jauh lebih mudah dibandingkan saat naiknya. Berat badan justru memudahkan untuk bergerak ke bawah oleh karena gravitasi. Ini kita bicara secara hukum fisika. Kalau bermain hukum realita, maka faktor kecapean, otot yang sering kali keram, dan pencahayaan menjadi faktor confounding yang menghancurkan prinsip kecepatan saat turun.

Pengalaman sebelumnya, waktu mencapai puncak adalah 3,5 jam, sedangkan waktu menuruni puncak adalah 2 jam. Perbedaan waktu yang signifikan. Karena kebodohan kami, pengalaman turun terdahulu kami kira bisa menjadi acuan saat turun. Jadi, jika kami turun jam 15.30, maka jam 17.30 sudah berada di bawah.
... 100% tidak benar!
Kami mencoba menuruni puncak Mangu secepat yang kami bisa. Harapannya untuk tiba di bawah sebelum malam tiba. Berjalan di hutan saat malam? Bukan keadaan yang kami pikirkan dan harapkan. Hutan berubah menjadi tidak terduga saat sinar matahari semakin memudar.

Belum juga kami melewati setengah perjalanan dari puncak menuju perhentian ke V, matahari sudah mendahului bersembunyi separuhnya di balik bukit.
Celaka...!

Target berubah. Tim ini HARUS sudah sampai di perhentian V - bagaimanapun caranya - sebelum matahari benar-benar masuk kandang. Rintangan dari puncak menuju perhentian V merupakan rintangan terjal yang paling sulit selama pendakian. Kami memerlukan tali pramuka sebagai alat bantu untuk turun. Artinya - dalam pikiran yang sudah mulai kacau dan lelah - kami sudah melewati hal buruk dalam situasi yang paling buruk saat sudah melewati lokasi ini.
Situasi buruk apa?

Menguraikan situasi buruk yang kami hadapi seperti menjelaskan gajah kepada orang di antartika yang tidak memiliki TiPi atau belum pernah melihat gambarnya. Aku hanya memandang matahari yang merayap di balik bukit, berlahan tapi pasti, seperti saat aku membalikkan badan dan melihat rekan-rekanku menuruni bukit berlahan tapi pasti.
Pasti.
Pasti kami akan terjebak malam di hutan ini.

Masih kurang buruk?
Kabut mulai berbaris di sekitar kami. Sinar matahari yang sudah sedikit, semakin terhalangi oleh kabut tipis. Jarak pandang terbaikku hanya 5 langkah ke depan. Masih cukup bagus, setidaknya masih dapat mengantisipasi situasi 5 langkah di hadapanku.

Harap-harap cemas itu menjadi nyata. Matahari melambaikan tangan, berpamitan. Kabut memekat. Batas pandang hanya 3 langkah ke depan. Badan kelelahan. Makian berkumpul di tenggorokan lalu jatuh ke hati.
"Kenapa cepat sekali matahari pergi! Keparat!"

Adit berteriak dari belakang (dia sebagai swiper), "Yon, jangan jauh-jauh jaraknya! Ini sudah mulai gak kelihatan jalannya. Kita berbaris sambil pegangan pundak saja."
Setiap ide yang berguna adalah penyelamat dalam keadaan seperti ini. Aku ronggoh tas untuk mencari "sesuatu" yang berguna : senter!
Entah ada firasat apa sampai aku menyiapkan senter di dalam tas. Inikah yang sering disebut "bisikan Tuhan"? Apapun namanya, aku bersyukur membawa senter. Senter yang hanya satu untuk kami. Senter yang biasanya bertahan 2 jam max, karena aku nge-charge setengah hari.
Perfect!

Yang sedikit melegakan, kami sudah melewati terjal-terjal antara puncak - perhentian V. Kini sedang dalam perjalanan menuju perhentian IV. Seingatku tidak terlalu jauh. Namun, biasanya ingatan cepat memudar seiring rasa lelah....

Malam merapat, kami berjalan seperti barisan ular naga panjangnya. Tau, kan, permainan itu? Bukan ular kami yang panjang-panjang (ya secukupnya lah panjangnya). Dengan panduan cahaya senter, kami berjalan setapak demi setapak. Berlahan, tapi tetap melangkah maju. Batas gerak dan pandangan hanya sejauh cahaya lampu senter. Aku sebagai guide di dedapn, setidaknya berusaha  mengingat, "benarkah ini jalannya? Apa saja rintangan di jalan depan?" Aku harus mengingatkan apa saja rintangannya.

Sekali lagi, faktor kelelahan mengganggu perjalanan ini. Untung saja, faktor ingin cepat pulang dan sudah kemalaman membuat semangat yang tinggal seujung jari semakin dipompa.

Malam saat itu, kami ditemani banyak kunang-kunang. Tak kusangka aku bisa melihat begitu banyak kunang-kunang di sekitarku. Seandainya malam ini bukanlah malam di hutan, mungkin aku bisa mengatakan : "Wah, indahnya." Sayang, yang terbersit hanya, "Wah duh! Semoga semua kelap-kelip ini benar-benar kunang-kunang." Merinding juga ada yang berpendar di kejauhan, di hutan, malam-malam pula.

Pengalaman turun puncak yang gila ini semakin menggila saat alas sepatu Indra, salah satu Tim, copot! Lepas hingga setiap lapisnya. Berarti, tampak dari atas mamang memakai sepatu. Namun, di bawahnya hanya kaos kaki yang langsung "menjilat" tanah hutan. Karena semakin tidak tahan, di pos perhentian ke IV, Bayu menukar sepatunya dengan sepatu Indra. Bayu si manusia otot itu akan mencoba kekuatan kakinya.

Belive me, bro. It's very very hurt. Bayu did feel it.

Hanya sebongkah batu yang biasanya kita injak dengan biasa dan wajah tertawa, bisa jadi pengalaman sangat menyakitkan saat alas kaki tidak ada. Itu terjadi berjali-kali pada Bayu. Hutan mulai bermain kejam kepada kami, terlebih kepada Bayu. Aku harap Bayu sempat melatih otot-otot di telapak kakinya sebaik otot-otot pada lengannya.

Mau bagaimana lagi, kami tidak bisa berhenti di tengah hutan seperti ini - dan Bayu tahu itu. Kami tetap berjalan, lebih berlahan dan hati-hati, sambil sesekali mendengar teriakan sakit dari Bayu.
You are strong, bro!

Dengan sistem ini kami akhirnya tiba di pos II. Aku masih belum bisa berpikir tenang. Belum ada lampu perumahan warga yang kami lihat, berarti berita gembira belum bisa datang. Semua tampak kelelahan. Bayu, Indra, Arta, Adit, Aku, semua kelelahan. Nafas kami yang memburu sebagai buktinya, meski tak dapat kami melihat wajah kelelahan satu dengan lain. Syukurlah, semua masih komplit. Sesuatu yang patut disyukuri, bukan?

Kami tidak ingin berlama-lama beristirahat. Segera, kami melanjutkan perjalanan. Sebelum itu, pesan SMS yang masuk sudah dijawab supaya orang-orang yang mengkhawatirkan diri ini tidak panik.

Aku sudah SMS kekasihku, Ria, supaya tenang. Sebentar lagi aku sampai.
(semoga)

Melewati tangga-tangga batu - tangga yang akan ditemukan dari pos I ke pos II dan III, rentetan tumbuhan di kanan-kiri yang membentuk pagar, dan lantai hutan yang semakin berbatu ( di sini suara Bayu semakin sering terdengar), hingga hasilnya kami tiba di pertigaan Pos I.
Berhasil!

Serasa penuh gairah, kami mencoba mempercepat langkah kami - hampir seperti lari kecil. Entah dari mana datangnya tenaga itu, padahal lelah sudah sampai sumsum tulang. Meski berusaha mempercepat langkah, fisik tidak dapat ditipu. Kaki Bayu sudah melewati penderitaan yang melebihi kemampuannya. Beberapa saat aku dan Adit harus membopongnya. Sedangkan di belakang, Arta membantu Indra.

Tiba-tiba aku merasa di sekitar kami jauh lebih terang dari sebelumnya. Jangan-jangan ada pesawat alien yang sedang mengawasi kami? Kubalikkan badan, dan ternyata... bulan bundar bersinar dengan terangnya. Ini baru namanya senter raksasa alam.

Pos I hanya kami singgahi sebentar, lalu kembali menyusuri jalan menuju tempat parkir. Masih cukup jauh, namun lebih melegakan karena kami sudah tidak di dalam hutan.
Saat tiba di jalan menuju jembatan, seorang warga menyapa kami. RUpanya itu bapak yang menjual bakso di parkiran. Untung saja dia kembali ke warung dan masih membuka warungnnya. Perjalanan malam yang panjang ini membuat perutku lapar.









Haaah.... rasanya ingin menjatuhkan diri dan tertidur di lantas warung itu. Belum aku melakukannya, Bayu sudah mendahului. Kaki, badan, dan tanganku dipenuhi bintik-bintik darah, bekas pacet menempel dan menikmati darahku.

Aku mengganti celana dulu. Terlalu berat dan dingin untuk kakiku. Aku memakai celana dengan bahan jeans. Itu salah satu kesalahan dalam pendakian di musim hujan. Sambil duduk-duduk menunggu bakso pesanan, kulayangkan pandangan pada jam dinding. Pukul 10 malam.

Sepuluh malam ??! Enam jam perjalanan turun?!! Aku berpikir lagi, berapa lama kami memakai senter ini? Pastinya lebih dari 2 jam. Dan, dia masih menyala! Oh, terima kasih Tuhan.

Misi kami berikutnya adalah supaya selamat sampai ke rumah masing-masing. Dengan kelelahan dan rasa ngantuk, misi ini cukup berbahaya.

Tentu saja, kami selamat.

***

Hari berganti. Otot-otot kaki sepertinya berontak untuk bangun dari tempat tidur. Beberapa tempat hisapan pacet masih mengeluarkan darah, sedikit. Meskipun sudah keluar dari hutan, cerita masih terus berlanjut....

Bayu sepertinya mendapatkan informasi tambahan mengenai Puncak Mangu. Dia baru bercerita saat kami bertemu di pelayanan kesehatan.

"Tempat itu (Puncak Mangu) katanya angker, bro', kata Bayu.
"Emang siapa yang bilang?"
"Katanya ada anak Stixxx yang hilang di sana. Juga, katanya sering ada kejadian "diikuti" penunggu sana setelah turun dari bukit itu."
Oke, pada akhirnya ini adalah cerita horor.
"Saat kita turun bukit, Adit uga mendengar suara jejak di belakang kita seperti diikuti."
Oke, kesan mistis semakin terasa. Kami sadar, kemarin kami naik saat Kajeng Kliwon. Bermakna sesuatu banget secara kepercayaan.
Akhirnya kami berkesimpulan, " Sepertinya kita diikuti karena kita ingin dijaga, ya. Untung kita sembahyang dahulu sebelum naik ke bukit. Juga sembahyang di puncak bukit."

Aku bertemu dengan Adit di hari sesudahnya. Untuk sekedar ingin tahu, aku bertanya,
"Beneran ada langkah kaki "tambahan" di belakangmu, Dit?"
"Iya, suara ranting patah yang diinjak. Aku pertama pikir itu langkah kaki kita. Tapi setelah aku samakan suara langkah kaki dengan bunyi ranting patahnya, ternyata suara ranting patah terinjak itu di luar dri langkah kaki kita."
Aku pandangi dulu dia sejenak - tidak perlu lama-lama. Adit melanjutkan,
"Ah, mungkin juga monyet yang masih ikut kita karena dikira masih ada makanan."
Aku hanya mengangguk-ngangguk saja, "Iya, mungkin hanya monyet."

Meskipun sepertinya kami berdua sepakat, tidak ada monyet yang mengikuti sampai di bawah. Monyet biasanya ada di puncak dan hidup berkelompok. Ah, mungkin hanya suara ranting yang tertekuk saat kami menginjaknya, lalu karena energi potensial menyebabkan ranting itu kembali ke posisi semula - sehingga menyebabkan suara patahan ranting.

Apa saja mungkin, kan..???

2 komentar:

  1. -Bayu-

    Hehehe, ini dia sekuel perjalanan kita yang ditunggu...
    Nyaris mati di hutaaaan ^o^
    Tapi di saat gini juga nyali dan kesetiakawanan diuji..

    Kejadian mistis gini udah lama banyak kejadian di Bali bro n sis
    Disembunyiin, disesatin, dll..

    So kalo maw ngadain perjalanan sebaiknya kita melihat hari-hari tertentu yang dilarang untuk mengadakan perjalanan..

    Oiya, kekhawatiran Indra waktu itu adalah perjalanan kita yang diputar oleh makhluk tidak nampak sehingga jalanan menjadi lebih jauh...soo scaryyy....

    BalasHapus

HAPPY COMMENT...