9.15.2011

Orang Bali (Juga) Korupsi


Tidak ada satu ras pun yang memiliki imunitas terhadap korupsi. Tidak terkecuali orang yang tinggal di Pulau Dewata ini. Barangkali pulaunya memang memancarkan kilau dewata, tetapi tidak bagi beberapa orang yang kini menginjakkan kaki di atasnya.

Seandainya dikorek sedikit demi sedikit seperti mengorek selokan bau busuk, akan mulai bermunculan kejadian-kejadian (yang bisa berarti fakta) yang menunjukkan korupsi sudah menjamur dalam kehidupan masyarakat Bali sekarang ini. Mulai dari kasus korupsi yang menyangkut "rahasia umum", sampai yang terang-terangan menyangkut nama salah satu orang bali. Sebut saja kasus yang sudah bergulir di tubuh Kemenakertrans yang menyeret tersangka Nyoman Suisanaya yang hangat diberitakan di bulan Agustus.
Wah, sebuah nama khas bali mulai hangat dibicarakan dan mulai terkenal di kiprah nasional, neh. Jarang-jarang terjadi!

Lebih dalam lagi mengorek seperti nikmatnya mengorek kotoran telinga, maka akan mulai terdengar juga "rumor" pencarian tenaga kerja PNS di Pulau ini yang memerlukan sedikit "obat pencahar" hingga mencapai puluhan juta rupiah. Wuiiihhh, uang dari mana itu? Padahal belum dapat kerja sudah harus keluar dana. Nanti, setelah dapat kerja, apa perlu hitung-hitungan untuk mengembalikan dana tersebut? Dengan cara "halal" pastinya....


Jika "rumor" ini benar (kan sampai saat ini belum diusut dan dibuktikan kebenarannya) tentu akan membuat banyak orang mengheluskan dada. Sia-sia rasanya sekolah setinggi gedung kampus tapi ujung-ujungnya harus berurusan dengan dompet pula untuk membuka peluang kerja. Mungkin juga beberapa orang mengheluskan dada sambil berkata " Untung saja masih hanya sebatas rumor, belum ada penyelidikan khusus. Masih ada waktu untuk 'menghisap madu' korupsi"

Seperti yang aku katakan sebelumnya, tidak ada yang immune terhadap infeksi korupsi. Tidak padaku, tidak juga mereka yang mencoba taat berdoa tiap beberapa jam sekali. Adanya keserakahan, kesempatan, dan aturan yang tidak tegas membuat semangat korupsi tumbuh seperti rumput liar yang tidak terkendali, dan menggila!

Terus, mau apa sekarang? Mencoba pasrah terhadap korupsi yang meraja lela, lalu ikut arus? Bagi yang tidak berduit maka akan segera sersisih. Parahnya, mereka bisa saja berkumpul menjadi kelompok yang mulai membuat keonaran dengan mencuri dan memanipulasi untuk mencari keuntungan. Yah, mau gimana lagi. Toh, mereka juga terdesak oleh sistem yang korup...

Setiap orang yang kukenal hampir selalu akan berkata benci kepada korupsi. Hingga akhirnya kebencian itu terjebak pula dalam jerat benang kusut korupsi. Jika begitu banyak orang bali yang muak dengan sepak terjang korupsi, kenapa pula masyarakat bali belum angkat sikap dengan membudayakan hidup "bersih"? Sama seperti bersihnya air tirta saat bersembahyang yang akan membersihkan juga niat dalam diri. Ataukah masih ada suara-suara kecil dalam diri yang menunggu harapan untuk mendapatkan kesempatan korupsi satu kali saja. Yah, supaya kaya dulu, baru mulai teriak "STOP KORUPSI".

Aaahhh, tai kucing buat aku (dan kamu)!

Sumber gambar :
1. http://www.surya.co.id/images/2010/11/korupsi11.jpg
2. Personal photo

Sumber link :
http://www.jakartapress.com/detail/read/3908/aktor-korupsi-kemenaker-masih-berkeliaran

1 komentar:

HAPPY COMMENT...