9.28.2011

Hati yang Gembira, Hati yang Berduka

Sebanyak 199 orang bergembira hatinya hari ini (27/9) karena telah melewatkan yudisium dengan sukses. Kesuksesan pertama adalah bahwa Yudisium akhirnya benar-benar telah terlaksana, setelah melewati penjadwalan yang alot dan sedikit menyulut emosi para penantinya. Kedua, bahwa hampir seluruh anggota angkatan 2005 dapat ikut serta dalam Yudisium kali ini. Dan ketiga, bahwa gelar dokter sudah bisa disematkan di awal nama masing-masing, meskipun gelar itu belum "berfungsi" dengan optimal karena masih ada beberapa acara lagi untuk menguatkan gelar itu.
Di balik semua gelak tawa dan beragam perasaan menanggapi Indek Prestasi (IP) selama menjalani CoAss, aku terusik dengan adanya perasaan lain yang (mustinya) aku perhatikan. Aku tidak akan sempat memikirkannya jika tidak karena satu peristiwa di parkiran siang ini. Mengingat-ingat lagi, bahwa awal kita tergabung dalam angkatan 2005, jumlah total kita adalah 220 orang, bukan? Berarti, masih tersisa 21 orang lagi. Itu berarti 9,5% populasi angkatan 2005 menunggu untuk Yudisium berikutnya. Menunggu dengan perasaan seperti apa kira-kira? Bisa dibayangkan sendiri-sendiri lah, saat teman-teman lain sudah mengenakan pakaian putih dan celana hitam untuk Yudisium, tetapi dirinya sendiri tidak ikut dalam kegiatan ini. Teralienasi jadinya. Untuk kasus ini, prinsip militer US army "no one left behind" tidak dapat digunakan. Hampir pasti akan ada saja yang "tercecer" selama pendidikan profesi ini.

Bagaimana seandainya dalam perasaan yang teralienasi itu ditambah lagi keadaan tanpa empati dan tanpa sapaan satupun dari rekan-rekan yang sedang riang hatinya? Bayangkan saja seperti telur yang terjatuh dari atap rumah. Remuk, hancur, tanpa menyisakan bentuk telur lagi. Masihkah kita layak disebut rekan jika empati saja tidak kita miliki? Apakah itu berarti kita juga tidak dapat menyalahkan jika mereka tidak menganggap kita rekan?
Rasanya bukanlah hal berlebih untuk sekedar memberikan empati dari kita yang memiliki banyak berkat kebahagian hari ini. Dalam bentuk apa? Ya apapun itu. Bahkan dalam sekedar sapaan hangat antar teman sudah menunjukkan empati, bukan. Coba angkat tangan, siapa yang "sekedar iseng" meng-SMS rekan kita dan (setidaknya) mengatakan : "ayo, semangat ya menjalani CoAssnya. Sebentar lagi kamu pasti bisa Yudisium seperti kita. Semangat!". Aku sendiri tidak angkat tangan....

Tak banyak lagi yang dapat aku ceritakan dalam tulisan ini. Intinya tentu mudah untuk dimengerti. Dalam kegembiraan yang kita alami saat ini, ada beberapa yang berusaha untuk ikut bergembira dengan kita. Maka, dalam beberapa perasaan yang berduka, (harapannya) kita berusaha untuk ikut berempati terhadapnya. Bukankah dokter yang profesional berarti juga dokter yang mampu untuk berempati?
Selamat menjadi dokter bagi rekan-rekan yang sudah ber-Yudisium hari ini. Selalu semangat menjalani hari-demi-hari kehidupan dokter.


Sumber gambar :
1. http://4.bp.blogspot.com/-1RvucCiY13A/Tfi8kMbFV8I/AAAAAAAACJo/UkAWN2m03Io/s1600/heart-attack.jpg
2. Personal photo of my friend

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

HAPPY COMMENT...