7.28.2011

Kodak C 190, Riwayatmu Kini

Sekarat!
Itu kata yang tepat menggambarkan keadaan kameraku saat ini yang kembali mengalami kerusakan. Baru saja 5 bulan yang lalu mengalami perbaikan, sudah kembali "turun mesin". Berarti selama 1 tahun aku dan Kodak sudah 1 kali perawatan plus 1 kali saat ini, dengan keluhan yang sama pula! Setiap kali hendak turn on, respon untuk on lama. Bahkan perlu "sedikit" manipulasi dengan membuka lagi baterainya dan memasang lagi pada tempatnya. Pengalamanku membuktikan, cara ini berhasil. Sayangnya, respon yang seperti ini mengganggu sekali jika aku sedang butuh pengambilan photo yang segera. Momen itu kadang datang dalam seketika. Kesigapan kamera sangat dibutuhkan. Kodak C 190 tidak mampu memberikannya. Ada apa denganmu, kawan?? Kenapa cepat sekali sakitnya....
Aku jadi berpikir, apakah aku sudah ditipu sejak awal? Aku membelinya karena sebuah toko memberikan penawaran harga diskon kamera murah satu tahun lalu. Jangan-jangan ini kamera bajakan, atau kamera yang di luarnya legal, tetapi di dalamnnya ilegal? Ataukah memang kamera legal, tetapi salah satu "penyakit" dari kamera Kodak C 190 adalah penyakit sulit turn on??

Setelah kembali ke tempat di mana aku membeli kamera, pekerja toko (bersama dengan pemiliknya) mengatakan karena garansi sudah habis 3 bulan lalu, sehingga rugi bagi aku jika ingin memperbaikinya. Perhitungannya seperti ini, sekali mengirimkan barang ke Jakarta - tempat pusat perbaikan produk Kodak - dan dilakukan perbaikan, akan membutuhkan dana sekitar 650 ribuan. Dengan sangat meyakinkan, pemilik toko menjelaskan kepadaku, saat ini dengan uang 850 ribu saja sudah mendapatkan Kodak C190 yang baru. Perkataan itu aku tangkap sebagai : "dengan menambahkan sedikit uang lagi, aku sudah bisa mendapatkan yang baru, untuk apa memperbaiki yang lama yang mungkin saja akan rusak lagi? "

Logis, benar juga yang dikatakan pemilik toko itu, jika perkataan itu benar. Pikiran picikku sempat berpikir, " ah, bisa saja hanya akal-akalan pemilik toko supaya aku membeli kamera digital yang lain." Dengan penuh keyakinan, pemilik toko menambahkan : "kamera-kamera digital memang mudah rusak, tidak seperti kamera jaman dulu yang menggunakan klise. Apalagi kamera digital semakin hari semakin murah, rugi kalo perbaiki kamera ini." I got the point. Intinya antara harga dan hasil tidak sebanding. Hanya saja yang aku sayangkan kenapa begitu mudahnya Kodak C 190 ini mengalami "penyakit" yang sama. Aku membelinya dengan susah payah saat harganya 1 juta (itupun harga diskon menurut promo toko) melalui tumpukan uang jajan yang aku sisihkan. Baru 1 tahun sudah keluar penyakit yang mengganggu sekali. Sepertinya lain dengan kamera digital merek lain yang sering aku lihat dimiliki rekan-rekanku. Contoh saja Sony yang bertahan lama, menurut pengakuan temanku sudah 3 tahun berjasa menemaninya, dan belum ada keluhan!

Kerusakan suatu alat memang dipengaruhi berbagai faktor, salah satunya cara penggunaan dan lamanya waktu penggunaan. Bagiku, ke dua faktor tersebut selama ini tidak melewati batas "jurang maut" merusak kamera. Tampaknya perlu dilakukan investigasi lebih lanjut supaya praduga dalam diriku tidak buruk terus. Apa mau dikata, kesimpulan sampai saat ini mengarah pada : Produk Kodak C 190 kurang bermutu. Ada sanggahan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

HAPPY COMMENT...