6.10.2011

Public Servis in Bali (2)



Oh Listrik, Kemanakah Kau Pergi??

Seusai jam tugas dari tempat pendidikan hari ini rasanya ragu-ragu. Mau langsung pulang ataukah diam di rumah sakit dulu. Alasannya hanya satu, ingin nonton sinetron korea! Mumpung sedang seru-serunya, kisah Dongyi dan Pasta.
Emangnya di rumah gag bisa nonton?
Bisa saja, asal tidak seperti kemarin! Kemarin, dengan penuh semangat pulang ke rumah. Jarang-jarang bisa pulang cepat (pulang tepat waktu pukul 13.00). Biasanya, ada saja jeda beberapa menit karena urusan di rumah sakit. Belum lagi ditambah kemacetan di siang hari, perjalanan dari rumah sakit hingga rumah menghabiskan 45 menit waktu hidupku.

Setiba di rumah, hanya dalam waktu 30 menit, akhirnya langsung menuju depan TiVi. Ceklik! Ceklik! Kok tidak hidup ya?? Coba liat kanan kiri, atas.. ooohh! Mati lampu! Listriknya pergi!! Rupanya mati lampu sudah sejak 2 jam-an yang lalu. Belum juga hidup. Okelah, aku pikir tidak apa-apa. Biasanya akan hidup kembali dalam waktu 1 jam. Kuhabiskan waktu dengan mengerjakan tugas di laptop dengan tenaga seadanya. 1 jam sudah terlewati, dan listrik belum juga datang. Where are you??

Akhirnya kesal juga. Ngantuk. Tidur. Baru bangun setelah 3 jam. Bangun-bangun lampu sudah terang benderang. Kata adik dan bapakku, listrik baru menyala kurang lebih 30 menit yang lalu. Haaaaa, apa ini?? Lama sekali listrik pergi tanpa memberi kabar.

Tidak Sopan!

Rasanya kekesalan di hatiku ini seperti ingin mengumpat : Tidak Sopan! Bagaimana tidak, kalau seseorang hendak pergi mestinya harus pamitan dulu. Kemana ini listrik akan pergi, kenapa aku belum tahu? Tidak ada kabar, tidak ada pemberitaan. Barangkali ini suatu kebiasaan dari segala aktivitas di Bali ini, entah pemutusan arus listrik, mematikan aliran air, bahkan kegiatan di jalan, tidak memberikan kabar lebih dahulu. Setidaknya, kalau ada rasa sopan santun dan mengerti betapa pentingnya listrik, ada pengumuman terlebih dahulu.
Mungkin sudah ada pemberitaan lewat koran?
Oh ya? Mana??? Bali post aja sepertinya tidak ada pengumuman masalah pemadaman listrik (juga banyak kegiatan yang berpengaruh pada fasilitas umum).

Jangan berpikir kekesalan ini karena aku tidak dapat nonton sinetron korea (meskipun sebenarnya kesal juga, seh). Tapi, coba bayangkan. Seandainya ada di lingkunganku (satu RW) yang punya usaha makanan dengan sarana Freezer sebagai pengawet, saat listrik padam dalam waktu 1 jam, bisa-bisa makanan yang ditaruh di freezer sudah "matang" semua. Bagaimana juga dengan usaha fotocopy? Padahal, ada 5 usaha photocopy yang sedang merintis di daerahku.

Untung saja hari ini listrik tetap ada di rumah. Sinetron korea sudah siap untuk dinikmati. Aku rasa, pedagang yang lain pun senang rasanya listrik tetap lancar! Seandainya nanti ada rencana untuk mematikan listrik lagi, apakah akan ada iktikad baik untuk memberi tahu terlebih dahulu? Ya, tergantung empati para pemegang kebijakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

HAPPY COMMENT...