10.20.2011

Serangan Telak Buat Bali

Thuesday Update

Bulan ini sepertinya Bali mendapatkan serangan telak dari berbagai penjuru. Dari atas, bawah, bahkan dari dalam. Dari atas ditandai dengan kemunculan kasus Flu Burung di daerah Bangli. Kasus ini dibuka dengan adanya 2 korban. Satu lagi pasien yang masih menunggu hasil laboratorium untuk meyakinkan sakitnya bukan karena flu burung. Dari bawah ditandai dengan goncangan gempa 6,4 skala richter minggu lalu, yang menggoncang tempat tidurku juga. Setelah sekian lama vakum, akhirnya kembali lagi tempat tidurku diguncang oleh gempa sungguhan, bukan gempa buatan manusia...
Dari tengah, wah ini yang memalukan, adanya kasus Melia Resort yang ternyata milik buronan terpidana, J. Tjandra. Bagaimana bisa pemerintahan Badung merestui pembangunan Melia Resort padahal sudah tahu pemiliknya adalah seorang buronan? Ditambah lagi, lokasi pembangunan merusak area kesucian Pura. Alamaaaakkk... Malu jadi orang Bali kalau ranah kesucian saja mulai dikotori pikiran busuk duniawi. Bukan itu saja. Masih ingat masalah tawuran antar Banjar di Klungkung? Wah, berarti ada 2 kejadian yang memalukan neh.
Gempa yang terjadi minggu lalu dapat terjadi di mana saja. Setiap daerah yang dilalui garis gempa memiliki peluang untuk mengalami gempat tersebut.  Kebetulan saja gempa itu terjadi di Bali, pulau dewata yang lagi santer jadi sorotan publik karena banyak masalah sosial yang muncul.

Flu burung yang terjadi di Bangli juga merupakan sebuah kebetulan yang buruk. Setiap daerah yang pernah mengalami pandemi Flu Burung masih memiliki peluang yang sama untuk terjadi kasus serupa. Jadi, Bali merupakan tempat yang mendapatkan kebetulan buruk itu. Tapi, ini sedikit beda. Kebetulan yang terjadi di Bali diperparah dengan kebiasaan orang Indonesia pada umumnya : KELALAIAN dan KEMALASAN. Sudah tahu daerah di Indonesia memiliki potensi untuk terjadi penyebaran flu burung, eh, dinas terkait malah terlena dengan keadaan tenang "sesaat" tanpa munculnya kasus Flu Burung. Sudah tidak ada lagi sosialisasi masalah Flu Burung, bagaimana cara merawat unggas dengan benar, penyemprotan berkala, dan personal safety. Sekarang, setelah kasus Flu Burung muncul, paniklah semuanya. Tidak siap karena lalai. Lalai karena malas. Malas karena tradisi....
Bisa kurasakan, karena aku juga sering seperti itu.

Tapi, adakah kejadian-kejadian ini berkaitan dengan masalah spiritual? Menjadi orang Bali dan bergelut dengan kehidupan di Bali, aku mendapatkan banyak pemikiran mengenai spiritualitas kehidupan orang bali. Salah satunya masalah Karma Phala. Suatu hukum timbal balik, aksi reaksi terhadap apa yang dilakukan di dunia. Jadi, mungkinkah berbagai kejadian buruk di Bali ini karena Karma Phala kami sebagai masyarakat Bali yang mulai mengabaikan banyak sekali jalan Dharma? Contoh saja pedoman Tri Hita Karana yang dulu diagung-agungkan. Hubungan yang baik dengan Tuhan, berarti hubungan baik dengan sesama, dan akhirnya berlanjut pada hubungan harmonis dengan lingkungan. Kini, lingkungan mulai berguncang. Mulai menunjukkan reaksi permusuhan. Bisa jadi karena diawali terguncangnya hubungan antar sesama. Mulai dari adanya perkelahian antar sesama warga Bali, pelacuran merajalela, sampai pembodohan yang barangkali berkedok peningkatan investasi dengan mengijinkan proyek Melia Resort.

Bisa jadi, setelah usut punya usut, kehidupan masyarakat Bali dengan Tuhan Pencipta pun sedang sekarat. Segala tata upacara yang dilakukan setiap hari, bahkan sewaktu-waktu tampak begitu mewah, hanya menjadi sebuah rutinitas. Istilahnya : "karena kebiasaan saja". Tetapi, hubungan dengan Tuhan justru kering. Tidak merasakan adanya kedekatan. Tidak ada kedekatan, berarti tidak merasakan adanya kehadiran. Akhirnya menghilang. Secara tidak sadar menjadi Atheis dalam hati, meski mulut masih mengucapkan "Slamat pagi, Hyang Widi".

Tulisanku ini sepertinya tanpa ujung. Tidak ada solusi di akhir permenungan. Hanya memunculkan cerita yang sudah diketahui khalayak umum. Semua orang juga (mungkin) sudah tahu tentang cerita ini. Semua orang juga (mungkin) sadar kalau masalahnya ada di dalam diri sendiri. Dan, semua orang juga (mungkin) sepakat bahwa yang harus diperbaiki adalah diri sendiri. Apa daya, KELALAIAN lagi, KEMALASAN lagi. Suatu kebiasaan yang benar-benar membunuh dari dalam diri. Yah, sudahlah. Toh juga Pulau Dewata ini hanya akan menyisakan kenangan indah masa lalu saja seandainya dalam beberapa tahun mendatang tidak ada perubahan yang berarti dari seluruh masyarakatnya.
Kalau alam sudah mengingatkan, dan masih juga kita mengabaikan, bagaimana kalau Tuhan yang mengingatkan??

1 komentar:

HAPPY COMMENT...