8.07.2011

Sebuah Hari Penuh Kehangatan, Sebuah Harapan Untuk Esok

Setelah beberapa lama di gunung (tepatnya 5 hari), baru kali ini aku bisa bangun pagi dengan kehangatan di badan. Rumah memang memberikan kehangatan di hati, cuaca Badung memberikan kehangatan di badan, dan kekasih tersayang memberikan kehangatan pada keduanya (ehehe). Saking hangatnya, aku jadi tidak ke Gereja hari ini.

Sangat mungkin sekali kenyamanan ini membuatku enggan untuk kembali ke tempat pelayanan di bukit yang dingin itu. Kehidupan yang sudah ditolak mentah-mentah maupun matang-matang oleh badanku. Sekarang saja aku masih merasakan sedikit sesak karena riwayat asmaku. Aku memang membutuhkan kehangatan...definitly because I'm a warm-blooded species.

Bagaimana caranya mengatasi keenganan ini? Berusaha untuk berpikir optimis sehingga badanku pun ikut optimis menghadapi lingkungan yang kontra dengan aku? Katanya, dengan berpikir penuh semangat akan memberikan semangat bagi badan untuk bertahan juga. Masuk diakal, karena sering kali mekanisme tubuh dipengaruhi oleh kerja otak. Tapi ini seperti mengingkari bahwa aku tidak nyaman dengan lingkungan tempat aku berkarya ini. Suatu realitas dihadapkan pada suatu realita semangat juga. Seperti pertarungan antara iman (semangat) dengan keadaan di depan mata.

Daripada sekedar semangat saja, aku sudah mempersiapkan selimut tebalku untuk menemani tinggal di bukit dingin penuh dengan kabut, desa Pengotan. Kehangatan akan tetap bersamaku, sebagai pendukung imanku untuk berkarya. Sungguh pikiran yang optimis sekaligus realistis. Win-win solution for a good mind set, wright? Yes, i belive it.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

HAPPY COMMENT...