8.13.2011

PPD69 : Waktu Terbagi (Hampir) Merata

: Kegiatan diskusi bersama warga Pengotan

 Lembaran Kisah 10 Agustus 2011

Delapan puluh persen waktu di Pengotan ini kugunakan untuk main kartu (CapSa) dan nonton film, 10 persen untuk kegiatan rutin mandi, jalan-jalan, boker, sedang waktu sisanya untuk mengerjakan tugas wajib dan kunjungan keluarga. Rangkaian kegiatan ini lah yang akhirnya masuk dalam sketsa harian PPD ku.
Semestinya waktu ini aku gunakan untuk apa?
Pertanyaan ini harusnya tetap nempel di depan mataku sehingga saat aku berencana melakukan kegiatan di rumah warga aku sudah siap dengan bahasan yang akan dilakukan. Maaf diriku, aku belum bisa melihat hal itu di depan mataku. Sudah mulai rabun karena kemalasan.

Pagi ini sesakku sudah semakin membaik. Setelah kemarin malam megadang sampai jam 01.30 Wita menonton film The Terminal dengan Tom Hank sebagai aktor utamanya. Enggan untuk membuka mata pagi hari. Belum lagi aku mengumpulkan semangat di balik selimut, Oponk sudah berteriak dari balik pintu untuk segera bersiap membantu penyuluhan Posyandu. Hari ini kelompok Pengotan 1 punya kegiatan membantu penyuluhan Posyandu di Pasar PPK Pengotan.


Kegiatan Posyandu dilaksanakan mulai pukul 08.00 wita. Kami harus mempersiapkan lebih awal, meskipun hasilnya tetap telat 15 menit dari jadwal. Mengambil baju anak-anak untuk disumbangkan terlebih dahulu di Bale Desa, kemudian menuju ke Pasar PPK. Di sana sudah menunggu Kader Dusun Delod Desa, bu Wayan, bersama 2 kader lainnya. Timbangan sudah disiapkan, meja penyuluhan, dan lembar-lembar posyandu. Mereka menata dengan rapi. Sudah tidak canggung, dan tampak siap di posisi masing-masing. Barangkali ini adalah salah satu Banjar yang konsisten melaksanakan posyandu.

: Dua ibu kader Posyandu sedang mengajarkan bagaimana cara menjadi superman

Pukul 08.15 baru datang 1 orang ibu dengan anaknya. Menunggu beberapa waktu lagi, sudah mulai berlahan terkumpul ibu dan anak-anaknya, mengalir berlahan seperti selokan yang sedang mampet. Semakin matahari meninggi, semakin aliran itu kencang. Semakin tempat pelayanan posyandu ini dipenuhi ibu-ibu dan anak-anak mereka. Antusiasme yang luar biasa dari warga. Akupun turut antusias setelah disegarkan oleh kehadiran gadis manis yang mengantarkan adiknya untuk ikut posyandu. Mari sebut saja namanya Luh. Mungkin karena semasa kecilnya Luh rutin ikut posyandu dan teratur mendapatkan vitamin A, kulit Luh tampak putih mulus. Tapi, dari mana asalnya wajah yang cantik dengan tubuh yang menawan itu? Apakah mungkin karena pemberian makanan tambahan (PMT) yang menciptakan kesemokan itu? Hmm, bisa jadi. Aku jadi berpikir, barangkali dapat dipertimbangkan untuk mencari duta posyandu sebagai contoh/bukti akan seperti apa anak-anak nanti seandainya rutin mengikuti posyandu. Aku dengan semangat akan mencalonkan Luh sebagai dutanya(ehehe).

Catatan kecil dalam hidupku : "nilai positif mengikuti posyandu = menemukan gadis manis"


: mau juga donk jadi adiknya, di antara Lani dan Luh (hihihi)

Kegiatan bulan Agustus ini tidak sekedar kegiatan rutin posyandu, tetapi juga ada pembagian vitamin A. Dari kami, sudah disiapkan telor matang, dengan baju anak layak pakai, dan tas gendong yang dapat memuat seluruhnya. Dari pihak KKN Unud telah menyiapkan kacang hijau dan presentasi. Wow, mereka ingin memberikan presentasi makanan sehat bagi anak. Rencana mereka bagus. Dengan sedikit persiapan yang lebih matang akan lebih bagus lagi, karena sepertinya tadi perencanaan mereka matengnya hanya 1/4. Mulai dari keterlambatan kedatangan ke lokasi (yang baru tiba pukul 09.30 wita), penempatan posisi presentasi, dan pemberian materi. Waktu pemberian materinya singkat, entah apakah padat. Isi materinya yah superfisial. Akan sangat baik sekali karena pemberian materi yang superfisial itu diperlulan satu sesi tanya jawab. Itu yang terlewatkan tadi menurut pengakuan ketua kelompokku, Oponk Marotong.






Secara keseluruhan, kegiatan dapat bejalan dengan lancar, meskipun nilainya masih 7 dari point terbaik 10. Setidaknya kami masih bisa bernafas puas, dan bisa SMS ke dokter Mita kalau program hari ini untuk memberikan bantuan Puskesmas sudah berjalan dengan lancar. Setelah semuanya beres, Suci baru  datang dengan Picanto putihnya. Dengan gayanya yang khas, lalu meminta maaf sambil tersenyum menggoda. Untung membawa "persembahan" kue, sepertinya akan dimaafkan,ehehe. Ada masalah mengenai pemesan kue, katanya. Ketepatan waktu dan koordinasi kami menjadi nilai pengurangan dalam penilaian kegiatan ini. Plus lagi....aku belum bisa berkenalan properly dengan si Luh. Kerena itulah nilai kegiatan ini sangaaaattt berkurang. ck ck ck...sayang sekali (untuk alasan yang tidak perlu, ehe)

Sepulang dari Posyandu, rasanya lapar sekali. Bangun pagi sudah harus menaikkan semangat dan suhu tubuh dengan sisa glukosa hari yang lalu. Perut ini seperti gamelan yang dimainkan dengan brutal. Sungguh menyakitkan. Mengikuti saran dari teman, aku dan Oponk mencoba Be Mujair di warung dekat Pertamina. Langsung cabut!

Aku sedikit terkaget saat pramusaji (keren banget istilahku) menanyakan apakah mau mujair dan be babi nya dicampur. What? Be babi dan be mujair dijadikan menu yang sama gitu? Dalam satu porsi? AKu tidak tahu jika dalam porsi yang sama bisa dikombinasikan daging yang berasal dari air (ikan) dan darat (babi). Mungkin bisa, entahlah. Atau bisa karena perut kami sangat adaptif dengan segala jenis makanan dan segala variasi kombinasinya? Kenyatannya...menu itu habis juga aku santap. Enak. Sesuai dengan harganya yang 10 ribu itu. Di daerah Pengotan dan sekitarnya, menu Mujair adalah menu primadona. Mungkin mereka mendapatkan dari Danau Batur, atau mungkin mengambil dari daerah di bawah yang membudidayakan mujair. Jelas tidak dari daerah sini, karena air untuk kebutuhan sehari-haripun sulit di sini. Ingin buat budidaya ikan? Siap dirajam warga. Tindakan yang terlalu mencolok.

Catatan baru lagi : segala jenis makanan dapat dicampur karena perut yang lapar tidak memperdulikannya.

Balik dari makan pasing (pagi-siang) langsung kembali ke Pustu. (Puskesmas Pembantu). Sedikit membantu ibu bidan untuk memeriksa 3 pasien dulu,  lalu kembali ke rutinitas 80%-20%. PPD ini bisa membunuhku dengan rutinitas kemalasanku. Entah kapan aku akan sadar diri....
Ayo, bagikan kartunya!


* Be = Daging  (/Bali)
* PPD = Pendidikan Pra Dokter

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

HAPPY COMMENT...