6.05.2012

Remembering Gunung Nglanggeran (Bukit Purba)

Central Borneo, my recent place, has no hill or mountain as appear in Bali or Java. The contour is almost flat. Memory about mountain makes me remember about our adventure, hiking at Gunung Nglanggeran (people usually said it as Bukit Purba) - Yogyakarta.

People said that Bukit Purba is a thousand years hill that came from volcanic eruption and naturally shaped by water and weathering. That's why people called it Purba (ancient), something that appeared long before our existence, when sharp teeth and reptilian skin became “the boss”.





A big part of this hill is contain of stone. From the start of our journey until (next) in the top of it, many big stones were “pose” by their own way, made many beautiful angles. For those who like photographing, these angles became an unique and interesting natural-photostudio.





Although the place already became one of tourism area and became one of local income, rutes to  the top of Bukit Purba were kept naturally as it be. To reach the peak of it, We must walk trough steep and slippery rocks, small cliff - until very tight cliff (in that time, I saw one big-fat-tourist stucked at the cliff and finally he can’t continue to the top), and slippery dirt steps caused by rain. Some stairs made of wood helped us while passing through the cliff. That cliff reminded me about Grand Canyon's on "124 hours" movie.








We spent two hours until we reached the top of the hill. Little bit exhausted, but really fun because at the top of it there were soo beauti-beauti-beautifull picture of nature. Like a sandwich, the picture made off blue sky layer and green trees below. A silent world up there made a mystique space as if the world was only ours, egoistical passion that always grow every time I climb Mountain.



Remembering my hiking team : Bambox, Ajik, Wisnu

VISIT INDONESIA! Get Tips from other travelers here

Indonesian Version :

Kalimantan Tengah tempatku sekarang, tidak memiliki bukit ataupun gunung seperti yang terdapat di bali atau jawa. Semuanya hampir datar. Kenangan terhadap gunung membuat aku teringat pada pengalaman mendaki Bukit Purba di Yogyakarta.

Konon, Bukit Purba merupakan peninggalan ribuan tahun lalu akibat letusan gunung dan pengikisan alam secara alamiah. Itulah dasarnya warga sekitar menamainya Purba, sesuatu yang telah terjadi lama sebelum kami ada, saat penguasa jalanan adalah gigi bertaring dan kulit reptil.

Dasar pembentukan dari bukit ini adalah bebatuan. Mulai dari awal perjalanan hingga nanti di akhir puncak, batu-batu besar tampak “berpose” dengan gayanya masing-masing membentuk sudut-sudut yang cantik. Bagi yang suka berfoto, sudut-sudut ini merupakan ruang peragaan alamiah yang menarik.

Meskipun telah dijadikan objek wisata bagi masyarakat sekitar dan menjadi sember pemasukan lokal, rute  menuju puncak masih dipertahankan sedemikian rupa seperti aslinya.
Meskipun telah dijadikan objek wisata bagi masyarakat sekitar dan menjadi sumber pemasukan lokal, rute  menuju puncak masih dipertahankan sedemikian rupa seperti aslinya. Untuk mencapai puncak dari Bukit Purba, kita harus melewati batu-batu yang terjal, celah sempit hingga sangat sempit (sampai-sampai saat kami melewati salah satu celah, ada pengunjung yang terjepit dan akhirnya mundur dari perjuangan ke puncak), dan pijakan tanah yang licin oleh hujan semalam. Beberapa anak tangga yang terbuat dari kayu membantu kami saat melewati celah sempit diantara bebatuan. Celah  itu mengingatkanku pada celah berbatu Grand Canyon di episode “124 hours”.   

Kami menghabiskan waktu sekitar 2 jam untuk tiba di puncak bukit berbatu itu. Sedikit kelelahan namun menyenangkan karena di puncak itu kelelahan kami terbayarkan oleh pemandangan alam yang indah. Seperti roti sandwich, lapisan warna biru langit dan hijau pepohonan membentang di mata kami. Dunia yang hening di atas sana menciptakan ruang mistis seakan hanya milik kami saja, suatu egoisitas yang hampir selalu tumbuh setiap kali aku mencapai puncak gunung.

VISIT INDONESIA! Get Tips from other travelers here



1 komentar:

HAPPY COMMENT...